Semua orang merasa dirinya bisa jadi sales, apalagi kalau kepepet.Namun bila kita mau lebih jauh melihatnya, salesmen ternyata punya kelas. Beda kelas, beda kasta, dan pundi –pundinya berbeda. Secara singkat ada 3 kasta Salesmenship.Kasta kelas 3. Ini terjadi kalau, Anda jadi penjual, punya barang atau jasa terus ada pembeli yang memerlukannya. Simples, transaksi terjadi, gampangkan?.
Hampir semua orang bisa. Makanya disebut kelas tiga. Ini hanya kerja mekanistik, motoris. Cuma tenaga yang bergerak. Ada Rutinitas. Sebagian besar, 60 % usahawan bergerak di kotak ini. Jurus tunggalnya? perang harga, diskon. Itu saja. Duitnya pas –pasan, tidak berani menaikkan harga. Takut sama pembeli, takut digertak pesaing. Beraninya sama bawahan biasanya. Kasian ya :)
Kasta kelas 2.Ini terjadi, kalau Anda atau perseroan Anda tidak punya barang, tidak produksi atau jasa sendiri. Kosong melompong, tetapi pembelinya ada, dan kebutuhannya, juga ada. Maka Anda mencari produser. Bisa namanya, trading, commisioner atau contract manufacturing. Disini perlu kreatititas. Nah disini, bukan semata kerja mekanik, tetapi unsur kecerdasan dan teknik teknik berpikir yang lebih strategis mulai berfungsi. Ada sekitar 10 % usahawan dalam kategori ini, mereka tumbuh besar. Misalnya orang tidak punya gedung, tidak punya barang, semuanya di sewa, tapi punya supermarket. Kelompok salesmen kasta2 ini, duait lebih dari cukup, hidupnya makmur.
Kelompok ini karena punya buyer yang pasti dan ada kebutuhannya, ia akan memanjakan buyer sebisa mungkin, dan salah satu caranya, adalah dengan negosiasi yang ketat dengan suplier. Karena ia tidak punya pabrik, tidak punya sumber supply mandiri. Supplier sering digencet habis habisan kalau bertemu dengan salesmen kasta 2 ini. Namun Salesmen kasta 2 ini sudah yahuuuud. Keren dan pokoknya sip. Pemborong proyek pemerintah, makelar kakap maupun pengusaha sektor riel banyak yang masuk katergori ini.
Kasta kelas 1.Nah ini terjadi kalau perseroan tidak punya mempunyai basis supply, tidak punya pabrik untuk produksi barang atau jasa, dan pembeli dengan kebutuhannya juga tidak ada, jadi status saat ini, nol- nol. Namun ia memunculkan demand alias permintaan , lewat persepsi dan iklan, kemudian orang merasa perlu dan harus punya. Sehingga kebutuhan ada, dan Selesman ini lalu pergi ke China, atau Indonesia, untuk kontrak pabrik dan produksi, terus mengirim kemana saja di muka bumi ini yang mau barang tersebut. Ongkos produksi Rp, 1000- per pices, terus mereka menempelkan merek “ Blokotok” misalanya, dan semua orang demam dengan produk tersebut, dan di Retail dijual dengan harga Rp. 200,000. Oleh karena itu Kelompok ini memerlukan daya cipta inovatif
Nah jumlah usahawan jenis ini ada sekitar 3 %. Merekalah yang makmurmur, mur ,mur.Celana merek top, parfum, kaca mata top, jam tangan dan hal hal lain yang ada di dept store mahal mahal dan mewah itu. Masuk kategori ini, Kasta 1. Kelas dewa
Sewaktu saya masih bekerja sebagai kaum pekerja profesi, perseroan tempat saya kerja sering mengerjakan bertemu dengan sales kelas wahid ini. Saya rasa banyak sekali perseroan negeri ini yang menghadapi kasus yang sama. Contohnya begini: Untuk satu produk, kami dibayar Cuma 10 $, namun disuruh pasangin price tag oleh pemberi order tersebut: kami menempelkan 195 $-300 $, sambil gigit jari. Nasib, nasib. Yang sini salesmen kelas 3,terima 10$, yang sana salesmen kelas Wahid jualnya 195-300 $. Beda kasta memang.Ayo kita pindah kasta.
| < Prev | Next > |
|---|








Comments
0 ria andika 2011-09-23 22:19 #4
0 Patriot Danang 2011-09-14 14:30 #3
yup, memang strata atau kasta salesmen itu begitu, cuma selama ini tidak dijadikan konsumsi publik. rahasia dapur pak:)
sekarang satu persatu akan kita kupas, agar semua orang bisa cepat maju, setuju?
soal pertanyaan monopoli pasar, sekarang sangat sulit, orang bisa kontrol supply, tapi tidak bisa kontrol demand.
organisasi monopoli, basisnya biasanya rasa takut, dan rasa takut ,itu menjadi motivating factorsnya.
dengan kata lain, ia menggunakan fear sebagai bensin pendorong kemajuan dan pencapaiannya.
0 HL 2011-09-10 22:51 #2
Pertanyaan saya kalau ada pengusaha berada di kasta kelas 3 punya pabrik, punya outlet store tapi karena dia melakukan praktek monopoli dari hulu ke hilir sehingga dia bisa menentukan harga tinggi dan mengusai pasar, bisa jual kemana aja, berarti termasuk Kasta yang mana? Ada juga, kan pengusaha yang begini? Yang begini pasti juga tajir. HeHe...
0 Joko Sutarto 2011-09-10 07:09 #1
RSS feed for comments to this post