joomla templates

Register

*
*
*
*
*

* Field is required

Login Close
---

---
Home / Blog / Mindset / Sudah pernah dengar HUKUM 10/90?
A+ R A-

Sudah pernah dengar HUKUM 10/90?

Mari kita perhatikan fakta berikut ini: ada dua orang korban PHK,yang satu menjadi tawar hati,hilang pengharapan,lumpuh tertatih,dan akhirnya down dan out. Sedangkan satunya,menggunakannya sebagai tantangan untuk membuktikan diri, bahwa iapun bisa hidup,dan mulai mati-matian bekerja,dan akhirnya justru  menjadii makin baik dan berkembang.  Faktanya sama: PHK,tapi outpunya berbeda.  Jadi bukan PHK itu sendiri yang membuat orang menjadi lumpuh atau berkembang.  Yang satu berkata “ Sialan di PHK”,yang lainnya bilang” untung di PHK”Contoh lain:
Ada dua orang masuk penjara karena suatu hal. Yang satu merasa dunia runtuh,akhir dari segalannya. Hari -hari gelap,terasa panjang,mengasihani diri,akhirnya  sakit dan game over. Sedangkan satunya menggunakan kesempatan waktu yang baik tersebut,sebagai medium untuk meningkatkan pemikiran, keyakinan dan mengatur stategi. Begitu keluar dari penjara,menjadi perdana menteri,presiden,dan lain lain. Xanana Gusmao,Mandela,Kim Dae Jeung merupakan contoh yang valid.  Artinya: Bukan tembok penjara itu yang membuat orang menjadi besar atau mati, tapi bagaimana response seseorang terhadap tekanan tersebut.

Faktanya sama: PHK atau Penjara. Namun bukan fakta itu yang membesarkan orang,tapi Bagaimana reaksi seseorang terhadap fakta itu yang akan mempengaruhininya. Inilah yang disebut hukum 90/10. Artinya,apa yang terjadi dalam hidup kita hanya berakibat  10 % saja. Betul bahwa beberapa hal buruk terjadi,tanpa dapat kita hindari ataupun mengerti. Namun bagaimana sikap kita bereaksi terhadap fakta itu yang akan  memberikan bobot 90 % terhadap output  kejadian.

Berikut ini satu lagi fakta karya psikolog besar Dr. Victor Frankl. Ia dokter jiwa sekaligus tawanan kamp konsentrasi Nazi di Perang dunia kedua. Ia  melihat kekejaman dan kekuasan  Nazi terhadap tawanan. Namun ia menemukan satu hal yang menarik:  Tidak semua orang mati,ambruk karena siksaan itu. Apa yang membedakannya? Ternyata: Reaksi dari paran tawanan  tehadap apa yang terjad, itu yang menjadi kuncinya.  Dr. Frankl menyimpulkan: mereka yang punya alasan untuk hidup dan merindukan hari pembebasan- karena masih menyimpan harapan akan hal- hal yang hendak mereka wujudkan di kemudian hari-  memiliki reaksi yang  berbeda terhadap penyiksaan dan keadaan yang sulit. Dan mereka lah yang terbukti hidup. Sementara yang tidak punya harapan,akan bereaksi lain,dan ambruk.

Saya tutup dengan satu kisah depan mata. Ada dua orang didiagnosis  sakit kanker. Yang satu mengeluh sepanjang hari,tidak punya harapan hidup,bersifat getir dan tidak pernah tersenyum, stress, cemberut.   Anda tentu tidak heran, ia akan lebih cepat kalah melawan sel kanker itu.
Sementara yang lainnya  punya harapan dan gairah.  Betul , itu penyakit yang besar dan  bukan penyakit enteng  seperti gatal -gatal, tetapi ia amat bersemangat hidup dan menerima sakit sebagai sahabat. Dalam benaknya, Ia ingin mendampingi anak gadis kecilnya tumbuh  besar, ikut berjalan melihat anaknya wisuda dalam toga, kemudian mengiringinya dalam genderang pelaminan. Ia  memiliki alasan untuk hidup.  Dan saya optimis, sahabat saya ini telah menang.  
Design webBlog ini hadir karena kontribusinya. Ia ingin melihat suatu bacaan yang bisa ikut memberikan manfaat bagi khalayak.  

Nah Survey Dr. Frankl dalam “Men Search for Meaning” menunjukkan: mereka yang punya alasan untuk hidup,bisa mengalahkan keadaan dan keluar menjadi pemenang.
Penyakit bloehsama, ada yang menang dan ada yang ambruk. Reaksi kitalah yang menentukan. Penyakitnya berpengaruh 10 % . Reaksi kita punya bobot 90 %. Itulah hukum 10-90.     
Dan orang yang memiliki response reaksi yang tepat tidak pernah kalah dengan fakta maupun  tunduk terhadap tekanan keadaan. Mereka akan keluar sebagai pemenang terhadap keadaan. Matahari bersinar menyambut mereka setiap pagi.



Ingin Share Artikel ini ?

Related Posts:
Gimana sih kamu tuh doel, sudah emak sekolahin tinggi tinggi sampai luar negeri, tapi ko nggak pinta
Sebagian besar kebiasaan orang  –habit- ternyata bukan sahabat yang baik bagi kemajuan dan impian
Banyak yang bilang “ saya mau jadi pengusaha, punya bisnis sendiri,nanti kalau sudah ada keberania

Comments

saya pernah dengar cerita.
ada seorang ayah yang akan meninggal dia berpesan pada kedua anaknya. jika kamu meminjamkan uang jangan meminta kembali.dan jika kamu kerja jangan terkena sinar mata hari
setelah sekian puluh tahun kedua anak tersebut memiliki nasib yang berbeda.sang ibu bertanya pada kedua anaknya mengapa kalian memiliki nasib yang berbeda.si sulung merasa dia memiliki nasib kaya berkat nasihat ayahnya sebelum meninggal. sibungsu pun ersikeras mengatakan dia gagal berbisnis juga di karenakan nasihat ayahnya sebelum meninggal.sang ibu heran padahal sebelum meninggal sang ayah berpesan bersamaan.
sang ibu bertanya pada sisulung bagaimana kamu menuruti pesan ayah.
si sulung berbicara
1.dilarang memnta kembali uang yang sudah kamu pinjamkan
maka dari itu saya selektif dalam meminjamkan uang saya apakah orang itu benar2 membutuhkan dan sanggup mengembalikan tanpa saya mita,(peminjamn ya pasti mengembalikan tanpa saya minta)
2.jika bekerja jangan sampai terkena matahari
saya bekerja pagi sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.

sedangkan ceita si bungsa
1.saya setiap ada yang meminjam uang saya tidak pernah menagih.dan hampir semuanya tidak tertagih
2.saya jika bekerja selalu menggunakan alat transpotasi yang bisa membuat saya tidak terkena matahari baik berangkat kerja maupun pulangkerja sehingga biaya tranpotasi saya membengkak

disini saya simpukan terkadang 1 kata bisa berati beda bagi pendengarnya.1 masalah juga beda penyelesaiannya . maaf berantakan kata katanya.maklum masih baru dalam dunia kerja.dan belum sehebat pak hendrik lim dan pak joko.salam kenal

maaf kalau kata2

0 ria andika 2011-09-23 23:01 #9

Quote

Terima kasih pak Junnus Supardi,
thanks for visit,. saya senang mendapat kunjungan dari pak Junus, enterprenur senior pemilik pabrik coklat di Bandung, teman pembaca yang perlu coklat bisa menghubungi pemlik PT Gizitas ini:)
apakah ada pelatihan untuk meningkatkan kemampuan soft skil seperti 10/90?

yes, ini namanya mind management, atau pengelolaan Cara berpikir, blues print atau Mainframe CPU berpikir seseorang. Namun hal seperti ini tidak diajarkan dalam kurikulum pada strata pendidikan.
Yang sering di campurbaurkan adalah, sebagian sering mengatakan bahwa hal-hal atau kemampuan ini dulu diajarjan dalam Budi Pekerti. padahal ini lain sama sekali, Budi Pekerti mengajarkan moral dan ethics, normatif. sedang Mind mangement bicara tentang mengelola cara berpikir, misalnya : bagaimana menghadapi fear, bagaimana tidak jatuh ambruk ketika dalam tekanan. Bagaimana bisa tetap mantap dan beradab ketika sukses.
Namun di dalam negeri amat sedikit., itu yang membuat saya menulis blog, menerbitkan buku dan melatih di perseroan. Kalau kita lihat TV seperti Oprah, nah itu mind management. Dia selalu bergerak disana, dengan mengetengahkan sebuah kasus terlebih dahulu. Makanya dia sering tanya: How do you handle bla bla bla. ini tidak sama dengan motivational, tetapi lebih kepada mind set management.
tks hendrik lim

0 hendriklim 2011-09-20 03:34 #8

Quote

Dear Mas Hoeda.
yang ditulis Mas Hoeda diatas adalah hal yang amat faktual dan praktikal. dan saya amat senang membacanya : mengelola harapan dan realitas. supaya orang tidak kecewa. menurut saya begini:

setiap kemenangan, baik kemenangan dalam bidang karir, personal, finance maupun personal lainnnya selalu terjadi dalam 2 etape perlombaan. etape pertama, ia harus terjadi dalam realisme mental, yaitu dalam pikiran dan semangat seseorang, kemudian dalam etape kedua, yaitu dalam alam realitas fisik. untuk menikmatinya, Kemenangan harus terjadi dulu dalam perlombaan fase 1 yang terjadi dalam alam mental. dengan kata lain orang haru melihat dahulu kemenangan etape satu mendahului kemenangan dua.

harapan, termasuk dalam 'bensin' untuk kemengan dalam fase perlombaan etape mental. sekarang pertanyaan mas Hoeda bagaimana agar orang tidak kecewa dalam mengelola harapan?
.
Untuk menang dalam fase etape kedua, orang harus punya mental Maju menyongsong, masuk kedalam laga, tidak bisa pasif menunggu. nah sebagian besar orang menjadi kecewa karena sering mengambil strategi Pasif menunggu. misalnya: buat web, buat blog, habis itu menunggu trafik. buat buku, buka toko, habis itu menunggu pembeli datang, bukan type penyerang. atau contoh lain, kalau ada komplain, tidak maju menyelsaikannya , tapi menunggu komplainer yang datang. jadi cara pandangnya harus menyongsong, jemput bila, atau proaktif istilahnya.


mengapa orang tidak proaktif, atau menyerang atau menjemput bola?
ini esensi karena masih di kelilingi oleh tembok rasa takut. makanya orang perlu breaking the fears. tanpa itu orang akan muter-muter, seperti tikut dalam perlombaan roda putar. Demikian Mas, semoga berguna.

Hendrik lim






.

0 hendriklim 2011-09-20 03:24 #7

Quote

"Harapan," kata George Bernard Shaw, "adalah kata yang dituliskan Tuhan dalam setiap kening manusia." Sepertinya itu benar, karena kita semua tidak bisa hidup tanpa harapan. Bahkan, mengacu pada post ini, harapan bahkan ikut menentukan 90 persen reaksi yang kita lakukan atas 10 persen kondisi yang kita terima.

Nah, yang kadang masih jadi masalah, Pak Hendrik, ada jenis harapan yang kemudian mengobarkan semangat pemiliknya, seperti yang terjadi pada Viktor Frankl, Mandela, dan lain-lain, tapi ada pula harapan yang hanya tinggal harapan. Artinya, ada orang yang mampu memiliki harapan ketika ia sedang menghadapi suatu kondisi pahit tertentu, namun harapan yang dimilikinya itu tidak mampu membuatnya bergerak untuk keluar dari kondisinya. Artinya, meski dia berharap, dia tetap terkurung dalam realitas atau kondisi yang sedang menjepitnya. Kenyataan ini, sepertinya yang terjadi pada sebagian besar masyarakat kita saat ini.

Disadari atau tidak, sebagian masyarakat kita saat ini sedang dilanda resesi yang tanpa henti, kondisi buruk negara akibat banyaknya korupsi, dan segala macam kejahatan yang sepertinya makin hari makin tinggi. Masyarakat kita mungkin berharap (atau menyimpan suatu harapan di dalam hatinya) bahwa suatu saat kondisi ini akan membaik. Tetapi harapan itu hanya tinggal harapan, karena toh kenyataannya kondisi itu terus menjepit mereka, dan kondisi mereka tidak menjadi lebih baik seiring bertambahnya hari.

Nah, kalau boleh bertanya, apa yang sebaiknya dilakukan orang-orang itu, agar harapan yang mereka miliki dapat menyala dan menggerakkan mereka untuk mewujudkan harapannya? Jika harapan mereka masih serupa nyala lilin kecil, bagaimana caranya agar harapan itu bisa menyala terang seperti obor? (dengan catatan tanpa adanya revolusi atau tetek bengek basi yang disebut reformasi). :)

0 hoeda 2011-09-19 16:28 #6

Quote

Apakah ada pelatihan reaksi yang bobotnya bisa mencapai 90% tersebut? dan kalau benar ada, berapa efektif pelatihan tersebut? :)) Menurut saya: intinya manusia tetap perlu berusaha, tetapi kita perldu memasrahkan hasilnya pada yang di atas.

0 Junus Supardi 2011-09-19 12:20 #5

Quote

dear Honey.
thanks for your visit,
salam untuk pendengar setia Volare :)
rgds
HL

0 hendriklim 2011-09-19 04:42 #4

Quote

Good morning Pak Joko.
thanks. betul pareto memang sdh sering disebut.
hukum 10/90 belakangan, dan diperkenalkan kalau tidak salah oleh Norman Vincent Dales.
rgds

0 hendriklim 2011-09-19 04:41 #3

Quote

setujuuuh om

0 honeylizious 2011-09-18 14:13 #2

Quote

Waktu saya baca judulnya saya sempat salah tebak. Saya pikir artikel ini mengulas tentang hukum Pareto. Tapi yang saya kenal adalah hukum Pareto 80/20, bukan 10/90. Yaitu bagaimana dalam sebuah kelompok atau organisasi, orang yang jumlahnya hanya 20% tapi memberi effort 80%. Nah, orang yang seperti ini yang perlu diberikan perhatian lebih karena sangat berpengaruh terhadap organisasi. Betul, Pak? Mohon dikoreksi kalau pemahaman saya salah.

Kalau di artikel ini pengertiannya hampir sama juga, ya Pak? Bagaimana sikap yang bobotnya hanya 10% tapi bisa memberi effort 90% buat hidup kita.

Dan kalau berbicara kematian, saya jadi ingat sajak Chairil Anwar yang berbunyi: “Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Meski kenyataannya dia (Chairil Anwar) akhirnya tetap meninggal di usia muda, tak genap 27 tahun, tapi semangatnya itu terus hidup dan dikenang sampai sekarang abadi bersama karyanya.

Saya tahu siapa yang mengidap kanker tapi tetap punya semangat hidup luarbiasa tersebut. Kita sama-sama berdoa buat kesembuhannya, Pak. Semoga tuhan memberikan umur panjang kepadanya. Amin

0 Joko Sutarto 2011-09-18 13:55 #1

Quote

Add comment


















Latest articles

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

YouCMSAndBlog Module Generator Wizard Plugin

Copyright 2011-2013 Hendrik Lim MBA, All Rights Reserved