Banyak yang bilang “ saya mau jadi pengusaha, punya bisnis sendiri,nanti kalau sudah ada keberanian atau kalau sudah punya modal”. Nah yang ini namanya conditional commitment, sebuah lingkaran “jika- kalau”. Sering pula saya bertemu dengan kaum profesional (gajian), yang berkata “ kalau nanti sudah punya usaha sendiri, baru saya mencurahkan semua pikiran dan tenaga. Kalau sekarang untuk apa, .....inikan perseroan orang lain”? Diktum berpikir seperti itu tidak membawa kita kemana-mana. Coba saja tanya pada diri sendiri: sudah berapa lama Anda berpikir seperti itu, apa sudah ada hasilnya?
Entreprenurship atau bisnis itu adalah suatu state of mind. Bukan state of condition. Untuk mengetesnya misalnya saya ajukan case seperti ini:
Misalkan saja ada seorang investor yang berkata kepada Anda: “Pak, atau Bu, ada dana stand by 20 M nih. Mau usaha apa ya? (Ganti saja angka 20 M itu dengan angka yang anda suka) Kalau Anda tidak punya jawaban, itu artinya spirit bisnisnya belum muncul . Anda belum punya “business case”. Berarti masalahnya bukan di Modal, tapi di Pikiran.
Kalau begitu yang perlu di overhaul itu cara berpikirnya dulu.








Comments
Salam...
0 Budi Setiawan 2011-11-17 11:01 #6
0 Batik Harley 2011-11-16 16:10 #5
salam dari surabaya, saya sedang berada di Surabaya pekan ini. diskusi dengan beberapa executive dan bisnismen yang mengambil modul Leadership Development di kelas malam Paska Sarjana.
senang sekali membaca komentar diatas. dalam terminologi China kuno ada istilah Hokie. artinya ada begitu banyak faktor yang bisa kita kuasai untuk merumuskan sebuah reaksi keberhasilan. dan senyawa kimia yang tidak bisa kita identifikasi menunjukkan ada hal hal yang tidak kita pahami, dan kita anggap sebagai misteri, tanda tanda kebesaran Alam, dan disebut hokie itu.
saya menterjemahkan hokie dengan : punya kompetensi, dan ketika kesempatan atau peluang datang, kita punya 'sesuatu ' untuk menjaringnya. Kompetensi bertemu kesempatan. belum tentu bisnis datang. perlu keberanian untuk menerkamnya. kalau itu semua sudah dilakukan, ya tinggal menunggu buahnya.:)
hendriklim
0 hendriklim 2011-11-16 07:17 #4
Saya sepakat bahwa pikiran lebih penting dibanding kondisi, karena kondisi seperti apa pun tidak akan banyak berpengaruh jika pikiran memang sudah bersiap. Namun, dalam konteks posting ini, kadang-kadang faktor keberuntungan juga berlaku, Pak. Ada orang yang memiliki konsep bisnis bagus, memiliki kemungkinan besar akan sukses, tapi terbentur modal. Modal sudah dicari kemana-mana tapi tak tertemukan, sampai kemudian ada orang lain yang membuka bisnis sama, dan benar-benar sukses. Ada faktor keberuntungan di sini.
Mungkin, yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah bagaimana caranya menarik keberuntungan ketika persiapan sudah dilakukan, agar pikiran yang sudah siap itu juga segera mendatangkan kondisi yang sama-sama siap.
Oh ya, Pak Hendrik, mungkin ini sudah terlambat, tapi saya ingin mengucapkan terima kasih atas kiriman buku dan t-shirtnya. I like it!
0 hoeda 2011-11-16 01:17 #3
0 Edwin Tjandera 2011-11-15 12:05 #2
0 Joko Sutarto 2011-11-15 06:24 #1
RSS feed for comments to this post