joomla templates

Register

*
*
*
*
*

* Field is required

Login Close
---

---
Home / Blog / Mindset / Apa Orang Kaya Pasti Pintar, Atau Orang Pintar Pasti Kaya?
A+ R A-

Apa Orang Kaya Pasti Pintar, Atau Orang Pintar Pasti Kaya?

Print PDF
Gimana sih kamu tuh doel, sudah emak sekolahin tinggi tinggi sampai luar negeri, tapi ko nggak pintar cari duit, nggak kaya –kaya  seperti Bento yang  tidak sekolah setinggi loe Doel? Begitu gerutu orang saat melihat anak nya pintar belum mencetak  uang hingga bisa disebut sebagai orang kaya. Hm.. apa yang ‘ tidak beres’ sama kecerdesan otak Pak Doel, sehingga  ia tidak mendapat bayaran atau omet yang besar?  Apakah Si Doel menginvestasikan sesuatu yang tidak efektif dalam otak inteligence nya?
Ada yang bilang Orang pintar itu belum tentu kaya, namun kalau orang kaya pasti ‘pintar’.   Apakah anda setuju dengan pendapat diatas? Apanya yang ‘pintar’?

Orang kita sebut  kaya  artinya ia sudah berhasil mendapatkan sebuah bayaran atas jasanya memenuhi kebutuhan orang lain,- apapun nama untuk kebutuhan itu-.  Artinya  ia telah menggunakan secara efektif kekuatan dan kometensi nya  untuk membidik, memikirkan kebutuhan dan kepentingan orang lain,lalu memenuhinya  dan atas dasar itu ia dibayar.  Ini berarti ia ‘pintar ‘ bukan? Karena memang dibutuhkan kekuatan mental emphati, untuk memikirkan kebutuhan orang lain, baru ada orang lain yang mau membayar sebagai imbalan untuk itu. Kalau tidak bisa ‘ pintar’  dan efektif menggunakanya, mana ada orang yang mau membayar kita?


Sebaliknya, orang yang pintar – dalam pengertian koqnitif yang sering disebut orang ‘punya otak kiri’, namun apabila ia tidak memiliki sensitivitas tinggi untuk duduk diam dan  menggunakan resources intellectualnya itu untuk memikirkan kebutuhan orang lain atau kebutuhan organisasi lain,  tentu ini sebuah pilihan yang  punya implikasi financial.  Jelas  tidak ada orang atau institusi lain yang merasa ia telah memenuhi kebutuhannya. dan mereka tidak menuliskan cek pembayaran untuk itu.    Para bijak mengajarkan kepada kita semua: orang toh tidak peduli berapa banyak yang kita tahu didalam otak kita, sampai mereka tahu berapa seberapa jauh kita peduli. Peduli adalah sebuah terminologi seberapa emphati kita memikirkan kebutuhan orang lain dengan sumber daya yang kita miliki itu. Dalam semangat seperti itulah, saya rasa sebuah kegiatan bisa menimbulkan impacts.

Dalam pengertian awam , kepintaran sering dihubungan dengan intelegensi otak kiri.  Dan ada banyak orang yang pintar yang payah emphatinya (otak kanan) untuk  menggunakan sumberdaya yang ia miliki untuk memikirkan kebutuhan orang lain, dan karenanya ia  tidak  mendapatkan bayaran dan kesulitan uang  . Tanpa mentalitas untuk berempathi atas kebutuhan orang lain, seorang executive yang cerdas belum tentu bisa mencetak profit dalam neraca pembukuan korporasi.

Spencer, seorang psikologue besar, bilang kalau seorang berlatar belakang teknik engineering itu amat cerdas dalam bidang teknis, ia bukan termasuk kategori unggulan. Karena memang sudah wajar ia harus mengerti kompetensi tersebut. Begitu juga kalau seorang Psikologue  at.au berlatar belakang sosial , mengerti tentang bidang psikologi dan huungan sosial. Tidak ada yang istimewa disini.  Kalau seorang berlatar belakang engineering, tapi juga melengkapi dirimya dengan kemampuan dan  kecakapan sosial, maka ia baru menjadi products unggulan  dan  umumnya orang yang melakukan investasi tambahan , diluar kwadran intrinsicnya seperti itulah yang akan menjadi sukses.   Kalau Background kompetensi kita adalah engieering dan hanya menginvestasikan waktu dan perhatian kita pada skill enginerring, benar kita akan menjadi amat pintar seperti cerita si Doel diatas, tapi tidak kaya kaya.

Lain si Doel, lain pula dengan Ziglar, salah satu tokoh leadership terbesar di Amerika Serikat. Zig dibesarkan dalam kondisi yang amat pelik dan miskin , bahkan hingga ia menikah dan memiliki putra dan ia masih miskin.  Dalam biographynya, ia menceritakan kesulitan karena tidak punya uang saat putranya lahir dan ia dalam kebingungan tanpa uang di kantong.   Sekarang keadaannya sudah benar benar berbeda.  Kini ia telah menjadi guru leadership yang amat sukes, tokoh bisnis dan  pemuka masyarakat di Amerika Serikat.  Dan didalam kemewahannya kini ia berkata ketika berhadapan dengan khalayak peserta traning yang ia selenggarakan: “Saya pernah mengalami kemiskinan, dan pernah pula kaya. Izinkan saya memberitahukan kepada Anda; dari pada miskin jauh lebih baik menjadi kaya”.   Dan hadirin pun bergemuruh tertawa setuju.   Dan pilihan tersebut dimulai dengan sebuah keputusan portfolio  investasi. Apakah kita hanya akan berinvestasi di kompetensi otak kiri, sebuah porfolio hard skill semata  atau juga akan berinvestasi di otak kanan, portfolio softskill

Ingin Share Artikel ini ?

Related Posts:
Sebagian besar kebiasaan orang  –habit- ternyata bukan sahabat yang baik bagi kemajuan dan impian
Banyak yang bilang “ saya mau jadi pengusaha, punya bisnis sendiri,nanti kalau sudah ada keberania
Tidak terlalu sulit untuk menjadi kaya dan sukses, setelah seseorang mencari dan menemukan jawaban 

Comments

Pak Joko.
Thanks, ini tahun Naga Air mas. Poros Jogja Magelang Jakarta siap operasi:)
biar bisa pinter dan kaya sekaligus.
salam hendrik

0 lim,hendrik 2012-01-25 14:41 #5

Quote

Kalau orang pintar belum kaya berarti pintarnya memang perlu dipertanyakan atau belum pintar beneran. Sebaliknya, jika ada orang yang tak pintar tapi bisa kaya, sesungguhnya dia lah orang pintar itu. Nah, bingung jadinya kalau dibolak-balik begini. He He He.

Saya setuju dengan Pak Hendrik. Jaman sekarang pintar secara teknis apalagi hanya secara akedemis belum lah cukup kalau ingin menjadi kaya. Seorang engineer ngerti teknik dan expert di bidangnya itu mah biasa. Tapi kalau tukang insinyur misalnya juga jago di beberapa bidang lain apalagi berbisnis itu baru namanya pintar beneran karena bisa menguasai bidang lain diluar kompetensi akademisnya. Nah, orang seperti ini kalau pun belum kaya, dia lah calon orang kaya di masa depan. Betul, Pak?

Lagi-lagi contohnya, kok engineer, Pak. Jadi kesindir saya, nih :-)

0 Joko Sutarto 2012-01-24 09:43 #4

Quote

terima kasih pak atas pencerahannya berbobot dan bermakna sangat inspiratif...
Semoga terus diberikan kesehatan dan bisa terus konsistent dalam penyebaran inspirasinya khususnya dalam blog ini umumnya dalam media lain, terima kasih salam hangat dari saya

0 JAJULI 2012-01-19 10:44 #3

Quote

Dear Pak Jajuli,
benar, apa yang Anda katakan itu. memang kalau sudah bicara "uang", kekayaan dan Kemaumuran, bukan lagi hal yang objektif, dan kita bias untuk memandangnya. karena dalam kata "uang", "kaya", "makmur" ataupun 'bisnis" sudah ada muatan emotional, atau values yang terpendam.

misalnya banyak orang mau berbisnis atau jadi pebisnis, tetapi ketika ia menyebut kata "bisnis" dalam hati kecilnya, ia merasa tidak nyaman. ada suara kecil terus berbunyi, " bisnis itu kaum mau menang sendiri, segala cara halal, tukang timbun,egois, dll" sementara ia sendiri ingin menjadi entreprenur. pada kasus seperti ini, Keinginannya bertempur dengan nilai emotionalnya. keinginannya bergerak ke arah kiri, tetapi diam2, valuenya berseberangan, kearah kanan.

Begitu juga dengan kata " uang". karena (salah) didik atau intretasi subjective, Banyak yang menyimpan pemikiran diam -diam, yang menghadapkan dirinya pada pilihan:" mau kaya atau mau spiritual, Atau orang kaya belum tentu bahagia, atau biar miskin yang penting bahagia". Ini namanya pilihan "mutually exclusive". kita disuruh milih mana yang lebih penting: kaki atau tangan.

setting yang sama juga seperti cerita diatas, mau sekolah pinter apa mau kaya? seolah2 satu pilihan me negasikan pilihan lain, sehingga menjadi perangkap, atau terperangkap dalam pemikiran sempit.

entreprenurship itu kegiatan out fokus, memikirkan apa kebutuhan orang lain, lalu memenuhinya, terus mereka akan membuka dompet, that is it.
tks see you/hendrik.

0 lim,hendrik 2012-01-19 10:38 #2

Quote

Ini menjadi salah satu pertanyaan tolak ukur bagi para remaja yang status nya masih pelajar atau mahasiswa karena mereka dihinggapi rasa galau yang bukan maen untuk mereka. Disisi lain mereka dituntut untuk bekerja keras mendapatkan hasil secara finansial dan disisi lain mereka harus tetap menuntut ilmu. Lahirlah statement atau stigma di masyarakat dalam berbagai segmen ngapain sekolah orang ga sekolah juga bisa kaya atau sukses. Nah, ini merupakan hal yang bisa menjadi daya tarik untuk mundur bagi kaum pelajar bukan daya dorong untuk maju. Salah satu pertanyaan ya pak bagaimana caranya supaya mereka katakanlah di lingkungan saya mereka bisa menjadi atau belajar entrepreneurshi p di bangku pelajar atau kuliah? sedangkan mereka gengsinya tinggi. Mohon pencerahannya....terima kasih

0 JAJULI 2012-01-19 08:20 #1

Quote

Add comment


















Latest articles

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

YouCMSAndBlog Module Generator Wizard Plugin

Copyright 2011-2013 Hendrik Lim MBA, All Rights Reserved