Pasar angkutan penumpang udara nasional sedang berkembang pesat. Tingkat pertumbuhan transportasi udara dalam negeri di atas double digit, hampir tiga kali lipat dari laju pertumbuhan dunia.
Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng mencatat angka spektakuler 79 juta pada tahun 2012, dan masuk dalam 4 besar pertumbuhan airport dunia setelah New Delhi, Rio De Jenairo dan Xiamen. Dengan laju pertumbuhan 18,2 persen per tahun, maka hampir dapat dipastikan Cengkareng akan menampung 100,8 juta penumpang di tahun 2015, tahun saat dimulainya pasar tunggal Asean. Besaran angka ini berarti ada sekitar 2.750-3.000 penerbangan per hari. Namun, hypergrowth ini juga diwarnai dengan hypercompetition. Beberapa airline nasional justru grounded alias bangkrut di tengah maraknya pertumbuhan.
Berbagai maskapai penerbangan memborong pesawat untuk mengantisipasi hal ini.
Lion Air membuat headline, memesan 234 Airbus pekan lalu, setelah sebelumnya memesan 201 Boeing dari Paman Sam. Garuda Indonesia mengantisipasinya dengan menambah jumlah armada 2 kali lipat dalam 2 tahun mendatang. Selain itu, maskapai Garuda juga tancap gas di Low Cost Carrier (LCC), dengan bendera Citilink. Si bungsu Citilink baru saja memesan 25 pesawat Airbus jenis A320 neo guna mendukung rencana penambahan rute penerbangan kesejumlah daerah pada tahun ini. Paska IPO (initial public offering) persero Flag Carrier ini menjaja lajang award Skytrax, lambing Quality Service bintang 5 dunia penerbangan guna memantapkan daya saingnya. Begitu juga dengan Airasia, Low Cost Carrier tetangga yang juga memborong armada besar-besaran.
Cakrawala Indonesia menjadi ajang unjuk kekuatan raksasa penerbangan dunia, Boeing dan Airbus, juga belakangan Bombardier, Kanada.Tidak hanya industri airline, bidang industri dan jasa lain terkait pun tumbuh amat pesat, diantaranya bidang pemeliharaan dan overhauling pesawat atau yang sering disebut MRO- Maintainance Repair and Overhaul.
Saat ini kekuatan lokal untuk jasa perawatan-pesawat hanya sanggup menyedot sekitar 30 persen dan sisanya harus mengalir ke negeri tetangga. Bayangkan, ketika pasar ASEAN menjadi borderless, Kawasan regional tanpa tapal batas teritori, tentu saja para pemain yang lebih canggih akan segera meringsek, menerkam pasar domestik yang molek tersebut. Bagaimana persiapan dan transformasi industri pendukung dalam menghadapi pertumbuhan ini di tengah ancaman pasar tunggal Asean Community yang segera terjadi kurang dua tahun mendatang ini.









































