Strategi yang baik membutuhkan orang yang memahami arah, memiliki kemampuan untuk bertindak, dan bersedia menuntaskan pekerjaan.
Mengapa sebuah perusahaan memiliki strategi yang jelas, manajer yang berpengalaman, dan karyawan yang terlihat sibuk, tetapi hasil bisnisnya belum sesuai harapan?
Salah satu penyebabnya adalah perusahaan belum membangun tiga unsur penting secara seimbang: orang-orangnya tahu apa yang harus dilakukan, mampu melakukannya, dan mau menuntaskannya.
Ketiganya terdengar sederhana. Namun, dalam praktik, perusahaan sering kali lebih kuat pada satu unsur daripada unsur lainnya.
- TAHU — Memahami apa yang harus dilakukan
Memiliki strategi tidak otomatis berarti setiap manajer memahami bagaimana strategi itu harus dijalankan.
Pimpinan mungkin telah menetapkan sasaran pertumbuhan, peningkatan profitabilitas, efisiensi, atau penguatan layanan pelanggan. Namun, manajer tetap perlu menerjemahkan arah tersebut menjadi prioritas kerja, keputusan sehari-hari, pilihan yang harus diambil, serta tindakan bersama.
Mereka perlu memahami bukan hanya target departemennya, tetapi juga hubungan antara keputusan mereka dan kinerja bisnis secara keseluruhan.
Tanpa pemahaman ini, setiap departemen dapat bekerja keras mengejar target masing-masing, sementara kepentingan perusahaan secara keseluruhan justru terabaikan.
Karena itu, manajer membutuhkan business acumen dan kemampuan menerjemahkan strategi menjadi tindakan nyata.
Tahu berarti memahami arah dan mengetahui keputusan apa yang diperlukan untuk mencapainya. - MAMPU — Memiliki kapasitas untuk mewujudkan
Memahami apa yang harus dilakukan belum tentu berarti seseorang mampu melakukannya.
Sebuah tim mungkin memiliki semangat tinggi untuk meningkatkan penjualan, memperbaiki produktivitas, atau meluncurkan produk baru. Namun, apakah mereka memiliki keterampilan, sumber daya, informasi, dan kewenangan yang dibutuhkan?
Semangat dan niat baik tidak dapat menggantikan kemampuan eksekusi.
Ketika kapasitas tidak memadai, pekerjaan terhambat, masalah berulang, dan target hanya menjadi angka yang terus dikejar tanpa kemajuan yang cukup berarti.
Di sini, tanggung jawab tidak hanya berada pada individu. Organisasi juga perlu memastikan bahwa struktur kerja, alokasi sumber daya, koordinasi, dan sistem pengambilan keputusan mendukung pelaksanaan strategi.
Mampu berarti memiliki keterampilan dan dukungan yang diperlukan untuk mengubah rencana menjadi hasil. - MAU — Memiliki ownership dan determinasi
Seseorang bisa memahami tugasnya dan memiliki keterampilan yang memadai, tetapi tetap tidak mengambil tanggung jawab ketika menghadapi kesulitan.
Pekerjaan berhenti ketika muncul hambatan. Masalah dilempar ke departemen lain. Keputusan ditunda karena takut salah. Ketika hasil tidak sesuai harapan, orang lebih sibuk mencari alasan daripada mencari jalan keluar.
Di sinilah ownership dan determinasi menjadi penting.
Manajer perlu bersedia mengambil inisiatif, bertanggung jawab atas hasil, belajar dari kegagalan, dan terus mencari solusi ketika pelaksanaan menjadi sulit.
Mau bukan sekadar semangat sesaat. Kemauan yang dibutuhkan perusahaan terlihat dalam tindakan yang konsisten, terutama ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.
Mau berarti bersedia mengambil tanggung jawab dan tetap berusaha menuntaskan pekerjaan ketika menghadapi tantangan.
Ketiganya harus bekerja bersama
Bayangkan tiga situasi berikut.
- Orang tahu, tetapi tidak mampu: ia memahami strategi, tetapi tidak memiliki keterampilan atau sumber daya untuk melaksanakannya.
- Orang mampu, tetapi tidak mau: ia memiliki kompetensi, tetapi tidak mengambil inisiatif atau tanggung jawab.
- Orang mau, tetapi tidak tahu: ia bekerja dengan penuh semangat, tetapi tindakannya tidak mengarah pada prioritas bisnis yang benar.
Ketiganya dapat menghasilkan aktivitas. Namun, aktivitas tidak selalu menghasilkan kinerja.
Karena itu, pengembangan kapasitas manajer perlu membangun pemahaman bisnis dan strategi, kemampuan eksekusi, serta ownership secara bersamaan.
Dalam praktiknya, ketiga unsur ini saling mendukung. Business acumen membantu manajer memahami konsekuensi keputusan. Strategy execution membantu menerjemahkan arah menjadi tindakan. Intrapreneurial leadership mendorong inisiatif dan tanggung jawab untuk menghasilkan kemajuan.
Ketiganya bukan kemampuan yang berdiri sendiri. Ketiganya membentuk fondasi bagi organisasi yang mampu bergerak dengan arah yang jelas, bekerja secara efektif, dan terus menghasilkan hasil.
Organisasi yang kuat bukan hanya memiliki orang yang tahu, mampu, atau mau. Organisasi yang kuat membangun ketiganya—Tahu, Mampu, dan Mau—menjadi bagian dari cara kerja sehari-hari.
