Kapasitas organisasi tidak boleh berhenti pada kapasitas pendiri atau direkturnya.
Ada perusahaan yang tumbuh besar karena visi, keberanian, dan kemampuan luar biasa dari seorang pendiri. Ada pula perusahaan yang kinerjanya sangat bergantung pada direktur yang berpengalaman, yang mampu membaca situasi, mengambil keputusan, dan menyelesaikan persoalan dengan cepat.
Kepemimpinan seperti itu tentu bernilai. Namun, ada pertanyaan penting yang perlu diajukan: apakah perusahaan juga memiliki kemampuan yang sama ketika orang-orang tersebut tidak lagi berada di tempatnya?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika dunia bisnis bergerak semakin cepat, teknologi mengubah cara perusahaan bersaing, dan model bisnis yang dahulu berhasil mulai kehilangan relevansinya.
Ketika kemampuan masih terkonsentrasi pada beberapa orang
Bayangkan sebuah perusahaan yang hampir semua keputusan pentingnya harus menunggu direktur. Ketika ada masalah lintas departemen, semua pihak menunggu arahan dari atas. Ketika muncul peluang baru, organisasi membutuhkan pimpinan untuk menentukan langkah berikutnya.
Pada awalnya, pola ini mungkin terlihat efektif. Keputusan dapat diambil oleh orang yang paling berpengalaman. Namun, seiring pertumbuhan perusahaan, pola yang sama dapat menjadi hambatan.
Waktu pimpinan habis untuk menyelesaikan persoalan operasional. Manajer terbiasa menunggu instruksi. Kemampuan mengambil keputusan tidak berkembang secara merata. Organisasi mungkin terlihat sibuk, tetapi terlalu banyak hal tetap bergantung pada beberapa individu.
Risikonya bukan hanya ketika seorang pemimpin pensiun atau meninggalkan perusahaan. Risikonya sudah muncul jauh sebelumnya: perusahaan kehilangan kecepatan, kelincahan, dan kesempatan untuk memikirkan masa depan.
Membangun kemampuan yang tertanam dalam sistem
Perusahaan yang ingin bertahan dan terus berkembang perlu membangun kemampuan yang tidak hanya melekat pada individu, tetapi juga tertanam dalam cara organisasi bekerja.
Artinya, kemampuan memahami bisnis, menerjemahkan strategi, mengambil keputusan, bekerja lintas fungsi, dan menuntaskan pekerjaan harus hadir di berbagai tingkat organisasi.
Manajer tidak cukup hanya mengetahui prosedur. Mereka perlu memahami alasan di balik prioritas perusahaan, konsekuensi keputusan mereka terhadap bagian lain, dan hasil bisnis yang ingin dicapai.
Mereka juga membutuhkan keterampilan, sumber daya, kewenangan, serta kemauan untuk mengambil tanggung jawab. Semua itu perlu diperkuat melalui sistem kerja, proses pengambilan keputusan, ukuran kinerja, dan pembelajaran dari pengalaman nyata.
Inilah mengapa pengembangan kapasitas organisasi bukan sekadar program pelatihan atau jargon HR. Ini merupakan kebutuhan strategis bagi perusahaan yang ingin menjaga relevansi dan keberlanjutan bisnisnya.
Pelatihan dapat menjadi salah satu sarana. Namun, kapasitas baru benar-benar terbentuk ketika pengetahuan dan keterampilan digunakan dalam keputusan serta tindakan sehari-hari.
Ukuran keberhasilan seorang pemimpin
Keberhasilan pemimpin bukan hanya terlihat dari hasil yang dicapai selama ia memegang jabatan. Keberhasilan juga terlihat dari kemampuan organisasi untuk terus bekerja, mengambil keputusan yang baik, dan menghadapi perubahan tanpa harus selalu bergantung kepadanya.
Pemimpin yang kuat tidak hanya menyelesaikan persoalan. Ia membantu membangun organisasi yang semakin mampu menyelesaikan persoalannya sendiri.
Pada akhirnya, perusahaan membutuhkan lebih dari sekadar individu yang hebat. Perusahaan membutuhkan kemampuan kolektif yang terus tumbuh, dapat diwariskan, dan mampu menghadapi tantangan yang belum pernah dialami sebelumnya.
Perusahaan yang ingin bertahan melampaui zamannya harus membangun kapasitas organisasi yang mampu melampaui kapasitas individu pemimpinnya.

haloo nice article. ini lagi uji coba tulis sendiri baca sendiri. dan isi comment dulu ya.